Logo

Featured Posts

SELAMAT DATANG DI BLOG KELOMPOK STUDI AKUAKULTUR UNIVERSITAS DIPONEGORO

Selasa, 12 November 2013

Pengumuman Hasil Oprec KSA Tahun Kepengurusan 2014 Tahap Wawancara

Setelah sukses dengan acara Pengenalan BDP, hari minggu, 10 November 2013 yang lalu Kelompok Studi Akuakulktur (KSA) kembali mengadakan perekrutan anggota aktif. Tidak seperti oprec kepengurusan tahun lalu, kegiatan yang bertepatan dengan hari Pahlawan ini diikuti oleh mahasiswa baru Budidaya Perairan angkatan tahun 2013 dan 2012 yang berarti sasaran KSA untuk kepengurusan ini tidak hanya untuk maba tetapi lebih kepada mahasiswa akuakultur yang berminat atau mau berkomitmen membangun KSA.
Proses wawancara 
Oprec untuk kepengurusan tahun ini terdiri dari 3 tahap, diantaranya pengumpulan CV, wawancara dan magang. Metode seperti yang diterapkan sebelumnya ini terbukti mampu menyaring dan menyeleksi anggota yang benar-benar aktif dan berkomitmen di KSA. Diharapkan dengan menggunakan metode seperti itu di tahun ini, grafik keaktifan anggota KSA sendiri akan tetap naik dan menjadikan KSA yang lebih solid.
 
Rapat panitia seusai oprec
Peserta oprec tahap wawancara dinilai berdasarkan poin-poin yang sebelumnya telah disepakati bersama oleh panitia oprec. Tahap wawancara secara garis besar menilai kemampuan mereka dalam pemecahan masalah dan loyalitas terhadap KSA. Hasil wawancara ini selanjutnya di-rembug bersama oleh panitia dan menentukan siapa saja yang berhak maju ke tahap berikutnya yaitu magang.

Berikut ini nama-nama yang lolos seleksi tahap wawancara dan berhak maju ke tahap magang:

1. A. Mahendra P.
2. Aminul Ichsan
3. Dimas Arbrar Utomo
4. Rendy Andriawan
5. Kamaruzzaman Alhamdy
6. Afit Rubiyanti
7. Humidah Sarah
8. Muhammad Arman Wijaya
9. G. P. Mahara P
10. Teguh Tedi Kurniawan
11. Hanna Parawita
12. Bagus Putra Arditya
13. Andri Kurniawan
14. Desi Setyowati
15. Arsy Latif Pratama
16. Puteri Purwasih Anggi Delina
17. Endra Catur Pamungkas
18. Ahmadi Arif Setiawan
19. Bayu Avrilistya Nugraha
20. Syamsul Ma’arif
21. Virna Novita
22. Fadillah Yuni Rahmawati
23. Meilisa Diasn Susanti
24. Aditya Atmojo
25. Lidya Aprilia Tarigan
26. Rusthesa Latriani
27. Hapiz Maulana Zakaria
28. Asrul Himawan
29. Vava Fatchurochman
30. Setya Larasati
31. Mulat Subekti
32. Dian Annisa I
33. Ardita Rahmat Tri Putra
34. Dimas Muhammad Arsyad
35. Mohammad Hendrawan Sambito

Menanggapi hasil wawancara ini, Bahari Sony Atmaja selaku Ketua Umum KSA periode tahun 2013 berpesan pada peserta yang tidak lolos wawancara agar tidak berkecil hati. Bahari menghimbau agar seluruh anggota KSA baik Aktif maupun Pasif mau bersama peduli dan menjadikan KSA menjadi lebih baik.


Note: Peserta yang lolos seleksi wawancara diwajibkan menghadiri technical meeting I pada hari Kamis, 14 November 2013, untuk waktu dan tempat akan diberitahukan segera.

Senin, 22 April 2013

Cacing Darah (larva Chironomus sp)


Siapa yang belum mengenal cacing darah? Tentu para pencinta ikan sudah sangat akrab dengan makhluk yang satu ini. Ya, cacing darah telah dikenal secara umum bagi para feeder atau pembudidaya ikan dan para pencinta ikan di dunia sebagai pakan alami. Tapi tahukah kalian tentang kehidupan dari cacing darah itu sendiri?. Berikut ini tim KSA akan mengulas sedikit tentang Cacing darah (Bloodworm)
Cacing darah atau bahasa kerennya bloodworm sering disalah artikan sebagai cacing sutera. Ini dikarenakan cacing darah dan cacing sutera sama-sama berwarna merah. Tapi siapa sangka, cacing darah di sini walau berwarna merah namun makhluk ini merupakan larva dari serangga dari ordo Diptera (nyamuk) jenis Chironomus, yang merupakan jenis nyamuk yang hanya menghisap nektar bunga / tanaman dan tidak menggigit.
Larva chironomus sp atau lebih dikenal sebagai cacing darah atau bloodworm merupakan larva dari serangga yang termasuk ke dalam family nyamuk. Chironomus mengalami metamorphosis sempurna, memiliki empat stadia hidup, yaitu telur , larva, kepompong dan dewasa.
Cacing Sutera yang sering disangka sebagai Bloodworm

Cacing Darah yang merupakan larva dari nyamuk Chironomus sp

Chironomus sp dewasa


Habitat
Sebagai serangga air, diptera kebanyakan ditemukan pada berbagai tipe perairan. Larva chironomus mudah ditemukan di daerah litoral maupun profundal perairan tergenang. Tidak seperti kebanyakan nyamuk, larva (jentik) nyamuk chironomus hidup di dasar substrat dan membentuk tabung pada subtract sebagai tempat tinggalnya. Larva chironomus juga bersifat dentritus atau sebagai pengurai bahan organic yang membusuk pada dasar perairan.

Siklus hidup
Setelah proses pemijahan, induk betina akan meletakkan massa telurnya di permukaan air yang akan tenggelam ke dasar perairan dan kemudian menetas menjadi larva. Siklus hidup dari telur hingga mencapai dewasa biasanya memakan waktu kurang dari satu minggu atau bahkan lebih dari setahun tergantung jenis spesies dan musim.
Induk chirunomus meletakkan telurnya di tempat yang mengeluarkan aroma khas dari poses pembusukan bahan organik.  Telur chironomus ini selalu ditemukan pada pagi hari, sehingga dimungkinkan induk meletakkan massa telurnya pada malam hari. Massa telur chironomus berisi 100 sampai 2000 butir telur dan akan menetas dalam waktu 24 sampai 36 jam.
Setelah telur menetas akan keluar larva yang berbentuk memanjang seperti belatung. Berukuran 1 – 100 mm. kepala tersusun atas sklerotin, thorax tidak memiliki pasang kaki, tidak memiliki bakal sayap, abdomen 8 – 10 ruas.
Larva chirunomus mempunyai habitat akuatik dan bersifat saprofog atau dentrivor, ada beberapa jenis yang hidup dan membuat suatu tempat berbentuk tabung yang biasa ditemukan di dasar kolam atau bak air. Imago sebagian besar bersifat nocturnal, banyak ditemukan di sekitar cahaya. Larva akan hidup hingga 1 – 2 minggu yang kemudian akan berubah menjadi pupa. Sebelum masa inilah larva chironomus atau dikenal juga sebagai cacing darah biasa dipanen sebagai pakan alami ikan. Setelah beberapa hari menjadi pupa, chironomus akan keluar dari pupanya menjadi chironomus dewasa yang berupa nyamuk pemakan nectar. Chironomus deawa sendiri hanya bertahan hidup sekitar 2 – 3 hari.

Cacing darah sebagai pakan alami
Dewasa ini cacing darah telah banyak dikenal sebagai pakan alami, hal ini didukung juga oleh penelitian-penelitian terhadap kadungan nilai gizi yang terdapat pada cacing darah itu sendiri. Hasil analisa menunjukkan bahwa cacing darah mengandung 9,3% bahan kering yang terdiri dari 62,5% protein, 10,4% lemak dan 11,6% abu dengan 15,4% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Kandungan protein larva chironomus yang sangat tinggi mencapai 60% yang dapat dicerna langsung oleh ikan, serta lemak 10% inilah yang mendukung kecepatan pertumbuhan ikan. Selain itu juga larva chironomus mengandung pigmen karoten berupa astaxanthin yang mencerahkan warna pada ikan.

Cacing darah sebagai indikator perairan tercemar
Selain kandungan gizinya yang tinggi, cacing darah juga digunakan sebagai indikator pencemaran air. Mengapa demikian?. Cacing darah rentan terhadap kualitas perairan, dimana cacing darah ini mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap kualitas air. Cacing darah hidup pada lingkungan yang memiliki suhu sekitar 24 – 29 oC, kandungan DO 4 – 8 mg/l dan kandungan pH yan berkisar antara 6 – 8. Selain parameter tersebut, terdapat juga parameter lain seperti kedalaman dan bahan organik. Jika keadaan perairan tidak mendukung parameter tersebut, cacing darah tidak dapat berkembang dengan optimal atau bahkan tidak ditemukan di perairan tersebut.


daftar pustaka:
Anonimus. 2000. Culture of bloodworm. http://www.sciencs.nus.edu.sg/~webds/fish/livefood/#tab
Boyd, C. E. 1982. Water quality management for pond fish culture. Development in Aquaculture and Fisheries Science. Departement of Fisheries and Allied Aquaculture, Agriculture Experiment Station, Auburn University, Alabama, U. S. A. P : 3 1 8.

sumber gambar:
onocoro.blogspot.com
aquamerik.com
biolib.cz

Jumat, 05 April 2013

Ikan Botia (Chromobotia macracanthus)


Ikan botia ( Chromobotia macracanthus ) merupakan ikan alam asli Indonesia yang berasal dari Sungai Barito, Kalimantan Selatan dan Sungai Batanghari, Jambi, memiliki bentuk tubuh yang indah dengan punggung agak membungkuk sehingga tampak seperti pesawat tempur, warna tubuh kuning cerah dengan 3 (tiga) garis lebar atau hitam lebar. Ikan botia menjadi primadona ekspor ikan hias sampai saat ini. Harga satu ekor ikan dengan ukuran 5 cm mencapai 13 euro (183 ribu) di pasaran Eropa.  Tetapi di Indonesia sendiri, ikan itu dijual ke petani dengan harga sekitar Rp. 6.000 – 10.000/ekor.

Didalam buku Saanin (1984) disebutkan bahwa genus botia memiliki 2 spesies, yaitu Botia macracanthus dan B. hymenophysa. Sedangkan  Kottelat, dkk(1993), dalam buku Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi, mencatat adanya tiga spesies.  Selain kedua spesies tersebut, satu spesies lainnya adalah B. reversa. Botia macracanthus, mempunyai 3 pita hitam yang melingkari tubuhnya, sedangkan B. hymenophysa dan  B. reversa masing – masing mempunyai 13 – 15 pita dan 12 pita.

Menurut Darti dkk. (2007), klasifikasi ikan botia sebagai berikut :
Fillum               : Chordate
Kelas               : Osteichthyes
Subkelas         : Actinopterygii
Ordo                : Teleostei
Subordo          : Cyprinoidea
Famili              : Cobitidae
Genus              : Botia
Spesies            : macracanthus
Nama latin       : Botia macracanthus, Bleeker

Morfologi
Bentuk tubuh ikan botia adalah agak bulat memanjang dan agak pipih ke samping, kepala agak meruncing pipih kearah mulut (seperti torpedo).  Badan tidak bersisik, mulut agak kebawah dengan 4 pasang sungut diatasnya patil / duri dibawah mata yang akan keluar apabila marasa ada bahaya.  Oleh karna memiliki patil itulah botia disebut si mata berduri ( thorn eyes ).  Sirip dada dan sirip perut / anal berpasangan, sirip punggung tunggal dan sirip ekor bercagak agak dalam.

Warna ikan kuning cerah dengan 3 garis lebar atau pita hitam lebar.  Pita pertama melingkari kepala melewati mata, yang kedua dibagian depan sirip punggung dan yang ketiga memotong sirip punggung bagian belakang sampai ke pangkal ekor.  Sirip berwarna merah oranye kecuali sirip punggung yang terpotong garis hitam. (Dartidkk. 2007)

Karena tampilan ikan ini menyerupai badut, botia disebut sebagai ikan badut (clown fish / clown loach ) botia juga disebut si macan karna belang tubuhnya yang seperti macan. Botia termasuk ikan yang berumur panjang, ikan ini diduga bisa hidup puluhan tahun. Ikan botia bisa hidup dalam aquarium selama 20 tahun. Panjang ikan ini bisa mencapai 30-40 cm. Tetapi dalam lingkungan aquarium jarang yang dapat mencapai panjang potensialnya tersebut.

Adapun menurut  Ghufran dan Kordi (2009) perbedaan dari ketiga spesies ikan botia ini adalah sebagai berikut :


1.      Botia Macracanthus

Botia macracanthus

Spesies Botia macracanthus merupakan spesies yang mempunyai warna paling indah.  Warana dasar spesies ini kuning keemasan atau sawo matang yang dibalut warna hitam atau pita hitam di tiga tempat.  Pita hitam ini mirip selendang, yang menyebabkan botia disebut sebagai ratu ikan air tawar.  Pita hitam pertama memotong diatas kepala, melintas persis di mata.  Pita yang dibagian tengah tubuh agak lebar, dan yang melintas di pangkal ekor merambat sampai sirip punggung.  Spesies ini hanya terdapat di Indonesia, terutama Sumatera dan Kalimantan.

2.       Botia Hymenophysa
Botia Hymenophysa

Mempunyai warna dasar abu – abu atau kecoklatan, dengan bagian perut berwarna keperakan.  Bentuk tubuhnya mirip spesies Botia macracanthus,hanya saja ukurannya lebih panjang.  Pada tubuhnya terdapat 12 -14 pita tegak berwarna kebiru – biruan bertepi hitam.  Yang berwarna pucat lebih lebar. Pada sirip punggung terdapat 12 – 13 jari – jari bercabang, dan terdapat bercak dan garis warna pada ujung sirip punggung.  Spesies ini terdapat di Sumatra, Kalimantan, dan Malaysia.

3.      Botia Reversa
Botia Reversa

Spesies ini berwarna dasar abu – abu atau kecoklatan.  Bentuk tubuh dan kepala mirip spesies Botia hymenophsa.  Pada tubuhnya terdapat 12 pita tegak berwarna hitam. Pita yangb berwarna gelap lebih lebar dari pada yang pucat. Pada sirip punggung terdapat 9 – 11 jari – jari bercabang.  Spesies ini ditemukan di sungai – sungai di dataran tinggi.  Terdapat di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa.

Habitat
Ikan botia yang berasal dari beberapa DAS di Sumatera dan Kalimantan. Penyebaran benih ikan botia di daerah banjiran sepanjang sungai Batang Hari mulai dari terusan sampai ke londerang pada musim penghujan. Penyebaran induk ikan botia mulai dari Muara Tembesi sampai Dusun Teluk Kayu Putih Kabupaten Tebo. Habitat ikan ini banyak ditemukan berkumpul di perairan yang tenang (tidak berarus deras). Ikan botia hidup di dasar perairan (termasuk ikan dasar), yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Suhu untuk pertumbuhan adalah 24-28oC.

Menurut Darti dkk (2007) Daerah sungai dengan kondisi air ber pH yang agak asam antara 5,0 - 7,0  suhu 24 - 300C merupakan habitat ikan botia. Perairan jernih dengan batu-batuan dasar merupakan tempat botia tinggal. Dari survey yang dilakukan di daerah Sumatera Selatan (sungai Musi) diketahui anak-anak botia hidup di daerah yang berarus lemah, dasar lumpur dan keruh dengan kedalaman 5-10  m. Sementara induknya berada di daerah dengan arus kuat (hulu) yang jernih dan kasar berpasir dan bebatuan maximum kedalaman adalah sekitar 2 m. Ikan botia hidup di dasar perairan (termasuk ikan dasar), yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Termasuk ikan yang pemalu sehingga lindungan atau sembunyian dalam pemeliharaan amat diperlukan.

Kebiasaan makan
Pada waktu malam botia mencari makan dengan menggunakan sungut sebagai peraba, memangsa berbagai cacing dan organisme lain yang ada di perairan.ikan botia  termasuk ikan omnivora atau makan apa saja walaupun pakan hidup lebih disukai. Sebagai ikan dasar maka pakannya adalah organisme dasar perairan seperti cacing baik cacing rambut (Tubifex sp) merupakan salah satu pakan yang baik karna mengandung pigmen yang dapat memperindah warna botia atau larva insekta dasar seperti cacing darah (Chironomus sp.) dan pellet dengan kandungan protein 30%.Penelitian yang mengamati di alam pada lambung botia juga ditemukan udang-udang kecil. (Darti dkk. 2007)

Reproduksi
Belum diketahui bagaimana ikan botia berkembang biak di alam.  Hanya saja anak-anak ikan ini banyak ditangkap pada musim hujan yaitu bulan oktober sampai januari,yang mengindikasikan saat itu adalah saat botia memijah.  Sementara pada musim kemarau tidak ada anak botia di alam.  Pemijahan yang dilakukan di lingkungan budidaya adalah dengan teknologi stimulasi hormon untuk merangsang pemijahan dan pembuahan yang dilakukan dengan cara buatan. (Darti dkk. 2007)

Bila hendak memijah, botia yang sudah matang gonad akan berenang melawan arus menuju hulu sungai yang berair dangkal. Disepanjang sungai yang dangkal dan jernih itu induk botia akan memijah. Setelah memijah, ikan akan kembali ke hilir mengikuti aliran sungai. Saat memijah, botia melepaskan semua telur – telurnya secara serempak.

Telur botia yang telah dibuahi akan menetas 14 – 26 jam setelah pembuahan. Anak – anak ikan botia berkelompok dalam jumlah besar sehhingga mudah ditangkap dalam jumlah banyak.botia mulai matang gonad setelah ukurannya ± 40 gr untuk botia jantan  dan untuk botia betina ± 70 gr, atau panjangnya lebih dari 15 cm. penelitian yang dilakukan oleh Darti dkk. (1999), menemukan bahwa indukan dengan ukuran 22 – 23 cm merupakan indukan dengan perkembangan gonad tercepat dan terbanyak.

Pengamatan histologigonad ikan botia yang dilakukan oleh Susanto (1996), membagi tingkat kemetangan gonad (TKG) menjadi 6 fase, yaitu sebagai berikut :
  1. TKG I.  Sel telur baru mengalami perbanyakan dari sel epitel dan membentukoogonia.  Kumpulan oogeniaberbentuk bulat yang dilapisi oleh satu dinding epitel.  Sitoplasmanya berwarna merah jambu dengan nucleus yang besar
  2. TKG II.  Ootgonia berkembang menjadi oositdenagn sitoplasma yang bertambah besar dengan nucleus yang terletak ditengah – tengahnya.  Selama perkembangannya, oosit ditutupi satu baris epitel.  Diameter oosit berkisar antara 100 – 150 um.
  3. TKG III.  Fase ini adlah fase berkembangnya dinding sel.  Oosit semakin membesar dan inti sel mulai tampak.  Sitoplasma yang berwarna biru merupakan awal / persiapan vitelogenesis.  Diameter telur antara 200 – 300um
  4. TKG IV.  Membrane inti mulai tampak berwarna terang, melingkari inti sel. Inti berwarna merah jambu sedangkan sitoplasma berwarna biru yang lebih terang dibandingkan pada TKG II dan III.  Pada fase ini vitelogenesis berlangsung dan mulai terbentuk granula dan vakuola pada sitoplasma.  Juga mulai terbentuk zona radiate yang berasal dari sel epitel.  Diameter telur antara 300 – 500 um.
  5. TKG V.  Pada fase ini nucleus tampak jelas dengan granula yang masih kasar. Sitoplasma berwarna biru, sedangkan nucleus berwarna merah jambu agak cerah dibandingkan dengan cairan yang mulai mengalami deregerasi.  Lapisan zona radiate tampak lebih jelas, tersusun dari sel berbentuk kubus dan sel tiang.  Diameter telur antara 500 – 600 um.
  6. TKG VI.  Fase ini merupakan fase maksimum perkembangna oosit, dimana sudah mengalami perkembangna optimal dengan vakuola yang berukuran besar dan jumlahnya sangat banyak.  Nucleus serta granula tampak lebih jelas, memenuhi sitoplasma.  Dinding folikel terdiri atas zona radiate, teka interna dan eksterna.  Pada bagian tertentu dari teka terdapat epitel yang menipis, membentuk mikrofil.  Diameter telur mencapai kisaran antara 600 – 700 um.




sumber:
http://stp-dkpakuakultur.blogspot.com/2010/08/teknik-budidaya-ikan-botia-chromobotia.html
http://aquacultureindonesia.wordpress.com/2011/08/13/teknik-budidaya-ikan-botia/
http://lisnawativedca.wordpress.com/2012/06/13/pengembangbiakan-ikan-botia-chromobotia-macracanthus-bleeker-secara-buatan-induced-breeding/

Wibowo, Sony. 2010. Paper TEKNIK BUDIDAYA IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus, Bleeker). Jakarta

Minggu, 17 Maret 2013

Pengumuman Hasil Oprec Tahap 1


Rapat Penilaian

Setelah melakukan rapat penilaian hari Sabtu, 16 Maret 2013 kemarin untuk menentukan kandidat yang berhak lolos ke tahap oprec berikutnya, panitia mencalonkan beberapa nama diantaranya:

NAMA PESERTA OPREC KELOMPOK STUDI AKUAKULTUR YANG LOLOS SELEKSI TAHAP I



1.      Diah Ayu S
2.      Mia Mutiara Yamin
3.      Sulasi
4.      Riski Mustikawati
5.      Bunga Indrasari
6.      Ana Munayrotul
7.      Hendra Kusuma Putra
8.      M. Khoirul Anam
9.      Dian Putri Arindasari
10.  Fortunaria
11.  Anggreni Setya Rakhmawati
12.  M. Dwi
13.  Tri Yaeni
14.  Zumalallail Nailulmuna
15.  Rizky Fajar Ramadhan
16.  Mahaswi Yudha Kesawa
17.  Amanda
18.  M. Ari
19.  Miftahul
20.  Tiara
21.  Anisa
22.  Anggi Restianti
23.  Kismindarti
24.  Fallah
25.  Isya Nurulita
26.  Tria Puspita
27.  Miflah Abdu
28.  Hanifah
29.  Maxcelmina Fatma



Peserta yang lolos seleksi tahap I akan mengikuti tahap seleksi II yang akan dilaksanakan segera. Seleksi tahap 2 ini berupa magang. Diharapkan dengan magang seperti ini akan lebih ketahuan minat dan loyalitas peserta dalam berkontribusi bersama KSA.

Ttd.
Panitia Oprec

Sabtu, 16 Maret 2013

Kegiatan Open Recruitment KSA 2013

Semarang- Rabu, 13 Maret 2013, KSA telah mengadakan oprec (open recruitment) dengan sasaran mahasiswa baru program studi Budidaya Perairan angkatan 2012 di Gedung C302 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Kegiatan oprec ini dilakukan guna merekrut anggota baru KSA periode tahun 2013 juga sebagai syarat Re-Organisasi. Sendirinya kegiatan yang berlangsung pukul 17.00 - 21.00 WIB ini terdiri dari beberapa tahap, diantaranya tahap wawancara dan magang.

Untuk mendaftarkan diri, peserta diwajibkan mengisi biodata dan 2 pilihan divisi dari 5 divisi yang ada (-diantaranya PSDM, Pengabdian Masyarakat, Kominfo, Ekobis dan Riset) pada CV yang telah dibagikan. Minat dan antusias peserta oprec bisa dibilang cukup besar, ini terbukti dari hampir 50% mahasiswa Budidaya Perairan angkatan 2012 yang mendaftar diri sebagai peserta. Animo yang besar dari peserta ini tentunya akan menyulitkan panitia oprec dalam menentukan peserta yang akan lolos untuk masuk ke dalam keanggotaan Kelompok Studi Akuakultur, Universitas Diponegoro.

Secara teknis pada tahap wawancara dibagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama merupakan wawancara untuk pilihan 1, kemudian dilanjutkan wawancara untuk pilihan 2 dan diakhiri dengan wawancara bagian sekre. Untuk wawancara divisi pilihan peserta diwawancarai oleh ketua atau perwakilan dari divisi yang bersangkutan, pada tahap ini peserta ditanyai mengenai minat, motivasi dan ke-loyal-an dan totalitas mereka memilih divisi tersebut.
wawancara bagian kesekretariatan
Peserta kemudian harus mengikuti wawancara ke bagian sekre yang diwawancarai oleh Bahari Sony A sebagai Ketua, Yogi Faisyal sebagai wakil ketua, Omega M Sapta Lahal sebagai ketua pelaksana oprec dan Nailil Muna sebagai sekretaris. Wawancara bagian sekre ini lebih memfokuskan kepada kemampuan individu peserta dan komitmen mereka untuk menjadi anggota KSA pada umumnya.

Setelah mewawancarai semua peserta, panitia akan menilai dan mengajukan beberapa kandidat yang lolos ke tahap magang yang akan dilaksanakan 2 minggu setelah pengumuman hasil wawancara. Magang ini yang nantinya menjadi tolak ukur penilaian dari keseriusan peserta untuk berkomitmen bersama KSA. Peserta yang lolos magang tentunya akan dilantik menjadi anggota KSA yang baru.

"Kami (KSA) sendiri tentunya mencari kandidat yang terbaik untuk meneruskan bahkan memajukan organisasi ini. Orang pintar mungkin diperlukan, tapi untuk saat ini orang yang berkomitmen dan totalitasnya tinggi terhadap KSA  adalah kandidat yang paling tepat menurut saya." Ujar Bahari selepas wawancara berlangsung

Pengikut

E-mail Newsletter

Sign up now to receive breaking news and to hear what's new with us.

Recent Articles

© 2014 - Now K.S.A. UNDIP | Supported By Universitas Diponegoro | Created By DipoCyber | KOMINFO KSA 2014 |
TOP